Indonesia Traveling

Pesona Desa Wae Rebo di NTT

on
22 Oktober 2018

Desa Wae Rebo

Sebelumnya aku udah nulis artikel perjalanan selama di Labuan Bajo, bagi yang belum baca bisa baca disini. Nah sekarang aku tulis artikel perjalanan ke Desa Wae rebo.

Desa Wae rebo salah satu desa di Indonesia yang budaya dan adatnya masih sangat kental. Desa ini memiliki ciri khas bangunan rumah yang berbentuk kerucut. Desa ini berada di Flores Nusa Tenggara Timur dengan ketinggian 1200 MDPL.

Untuk menuju desa ini terbilang tidak mudah karna kita harus tracking perkiraan waktu selama 2-3 jam, tergantung kecepatan masing-masing, semakin banyak istirahat maka akan semakin lama untuk sampai ke desa ini. Jadi waktu tempuh tergantung masing-masing individu, waktu itu saya dan teman-teman hanya memakan waktu 2 jam. Jadi jika ingin berkunjung kesini kekuatan fisik harus disiapkan.

Tracking Menuju desa Wae Rebo

Transportasi Yang Saya dan Teman-teman Pilih

Sudah dari jauh hari sebelum tiba di NTT kami berunding untuk memilih kendaraan apa yang akan kita gunakan saat ke Wae rebo. Awalnya kita memilih untuk sewa motor karna harga sewa yang lebih murah dibanding sewa mobil. Namun karna ada beberapa hal yang kami pertimbangkan lagi akhirnya kami memutuskan untuk tidak menggunakan motor. Berikut beberapa hal yang kami pertimbangkan.

  1. Jika menggunakan motor kita hanya akan capek di jalan karna perjalanan dari Labuan bajo menuju Desa Wae rebo sekitar 6-7 Jam, yang kita khawatirkan adalah stamina kita yang akan down karna kita masih harus tracking selama 2-3 jam untuk sampai desa Wae rebo.
  2. Kita tidak menginap di Wae rebo karna mengejar waktu pesawat untuk pulang esok harinya jadi kita harus tektok alias PP, badan pasti lelah. Kalau kita tetap nekat naik motor entah apa nanti yang akan terjadi, intinya mah kita cari aman aja karna seberapa jauhnya kita pergi tujuan utamanya tetap kembali ke rumah dengan selamat hhe.
  3. Kita belum tau kondisi jalan disana. Ini juga jadi pertimbangan kita, yang kita khawatirkan adalah medan jalan yang extrim, kalo masih nekat mau naik motor khawatir motor bermasalah di tengah jalan, Intinya mah kita tetap memikirkan keselamatan.
  4. Belum tau jalan mana yang akan di lewati, ini artinya kalo kita naik motor harus pakai GPS, yang kita khawatirkan saat pakai GPS adalah sinyal hilang ditengah jalan. Walaupun sekarang GPS bisa offline tapi berdasarkan pengalaman menggunakan GPS kadang malah nyasar. Nah daripada nantinya hanya memakan waktu untuk mencari-cari jalan jadi lebh baik sewa mobil yang udah jelas ada sopirnya dan udah pasti tau jalan.
  5. Setelah cari info harga sewa mobil jika di hitung-hitung ternyata hanya beda tipis dengan harga sewa motor karna kalau sewa mobil harga sewa di bagi 6 orang.

Keputusan Yang Diambil

Setelah beberapa pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk sewa mobil + sopir, sopir ini sekaligus jadi pemandu perjalanan kami menuju desa Wae rebo. Nah waktu tanya-tanya soal mobil kita di tawarin mau mobil tertutup atau mobil losbak, akhirnya kita memilih mobil losbak padahal harga yang ditawarkan sama aja. Kenapa pilih mobil losbak ? biar bisa tiduran dan selonjoran di belakang haha, kan biar seru juga tambah berkesan aja sih kalo menurutku. Dan ternyata bapak yang sewain mobil baik banget di belakang mobil losbak udah disiapin tikar gulung + busa biar badan ga remuk waaaa tambah nyenyak ajadeh buat tiduran haha.

Kondisi jalanan dari Labuan Bajo menuju Wae rebo, awalnya jalan mulus beraspal hanya saja jalanan sangat nanjak dan berlika-liku kalau yang ga kuat bakalan mabok perjalanan deh, untung pilih mobil losbak jadi bisa tidur sepanjang perjalanan dan badanpun ga berasa pegel. Setelah hampir sampai kondisi jalan mulai rusak, jalanan kecil dan samping jurang, langsung deh kepikiran Alhamdulilllah ga jadi naik motor haha. Eetapi ga lama kemudian di sepanjang jalanan yang kecil dan rusak itu kami di suguhkan dengan pemandangan pantai di sepanjang jalan, entah itu pantai apa, ga nyangka sih udah perjalanan jauh naik dan berlika liku ternyata ketemu pantai lumayan buat cuci mata hhe.

Sampai di Wae Rebo

Untuk berkunjung ke desa Wae rebo kita harus membayar Rp. 200.000 (untuk yang tidak menginap), dan Rp. 325.000 (untuk yang menginap semalam).

Setelah berjalan selama 2 jam sampailah kita di pos terakhir. Sebelum masuk ke dalam desa, tamu wajib membunyikan pentungan yang tergantung di gazebo pos terakhir, hal ini di lakukan sebagai tanda akan ada tamu yang masuk desa tersebut. Setelah sampai di pos ini Hp, kamera semuanya harus di masukan ke tas. Di sini kami diberi penjelasan oleh pemandu.

Pos Terakhir

Setelah itu lanjut perjalanan untuk masuk desa. Awal mula masuk kita wajib mengikuti rangkaian adat di dalam rumah, yaa semacam sambutan selamat datang. Sampai disini HP dan kamera masih tidak boleh dikeluarkan.

Setelah rangkaian adat selesai kita berpindah ke rumah lain, disini kita di berikan segelas kopi khas wae rebo dan disediakan makan. Mulai lah kita menyantap hidangan yang sudah disediakan. Setelah selesai mulailah acara bebas, kita bisa foto-foto dan jalan-jalan di sekitar desa.

Makan-makan dan Ngopi

Senangnya di desa ini orang-orangnya sangat ramah, anak-anaknya pun sangat menyenangkan. Anak-anak di sini sangat senang jika ada tamu yang datang, mereka akan berlari menghampiri tamu yang baru saja sampai dan memyambutnya dengan bersalaman.

Foto Bersama Sesepuh Desa

Peraturan Di Desa Wae Rebo

Ketika sudah masuk desa ini maka harus mentaati peraturan yang ada disini. Dan juga harus jaga sikap serta menghormati juga. Berikut peraturan yang ada di desa wae rebo :

  1. Compang, compang ini bundaran yang berada di halaman depan, semua rumah adat yang dibangun menghadap compang. Compang ini di anggap sakral semua pengunjung tidak boleh berfoto di compang ini dan juga tidak boleh duduk atau berdiri di atas compang, karna compang ini biasa digunakan warga untuk mendekatkan diri pada alam, Leluhur dan Tuhan.

    Bundaran Compang

  2. Tidak boleh memberi permen, coklat, kue atau makanan apapun kepada anak-anak di desa ini tanpa seizin orang tuanya. Ga usah takut untuk izin ke orang tuanya, orang tuanya pasti mengizinkan kok. Waktu itu saya dan teman-teman izin dan langsung di izinkan. Anak-anak disini sangat senang kalo di kasih permen dan jajanan lainnya, mereka sangat lahap dan sangat menikmati.

    Bagi-bagi permen dan Jajanan Sambil Bermain

Setelah puas berada disini, bermain dengan anak-anak dan berfoto-foto kami langsung bergegas untuk siap-siap pulang. Oiya sebelum pulang tak lupa kami membeli oleh-oleh khas wae rebo, oleh-oleh disini sangat beragam mulai dari kain tenun, sarung, gelang, berbagai makanan dan lain-lain. Kalo kalian pergi kesini jangan lupa ya beli oleh-olehnya karna dengan kita membeli oleh-oleh disini sama dengan kita membantu perekonomian warga disini. Ketika ingin membeli oleh-oleh disini sebisa mungkin sediakan uang pas.

Oleh-oleh Wae Rebo

Pembuatan Kain Tenun Khas Wae Rebo

TAGS
RELATED POSTS
20 Comments
  1. Balas

    Taumy

    22 Oktober 2018

    Woow, Wae Rebo. Salah satu desa wisata yang sangat menakjubkan. Baik budaya maupun arsitektur tempat tinggalnya. Pasti sangat berkesan setelah dari sini, meskipun perjalanan yang sangat melelahkan.

  2. Balas

    Firdaus Soeroto

    23 Oktober 2018

    Desa Wae Rebo adalah salah satu tempat impian yang belum terwujud sampai sekarang :’)

  3. Balas

    cha

    23 Oktober 2018

    Harus lebih hemat nih buat nabung biar bisa ke waerebo, itu track nya susah gak ka

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      tracknya gampang ko ka untuk dilewatin 😀

  4. Balas

    tuty prihartiny

    23 Oktober 2018

    Asikk, tidak terlalu lama saya menunggu kelanjutan tulisan kakak tentang Labuan Bajo.
    Wae Rebo sangat mengagumkan ya Kak dalam berbagai sisi kehidupan sosial, budaya, ekonomi keindahan alam sekitarnya de el el. Apalagi kalau hal tersebut tertuang dalam tulisan kakak yang sellau menarik dan informatif seperti ini.

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      Aaakk makasih ka, tetep stay tune terus karna masih ada kelanjutannya hehe

  5. Balas

    Agnes

    23 Oktober 2018

    Waerebo, masuk bucketlist aku banget nih 🙂 ka kalo penduduk desa Waerebo sendiri untuk keluar desa akan mengikuti jalur yang sama kaya kaka berjalan kaki 2 jam itu kah?

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      Semoga bucket listnya cepet kesampean ya ka hhe, iya ka penduduk sana lewat jalur yang sama

  6. Balas

    Maria Widjaja

    23 Oktober 2018

    Pas ke Wae Rebo, aku tuh nggak beli kainnya karena takut nggak kuat manggulnya ke bawah nanti. Sampai sekarang, nyeselnya setengah mati. =\

  7. Balas

    Galuh

    23 Oktober 2018

    Itu biaya masuknya yg 200k per orang apa per grup? mahal juga kl per orang

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      Per orang ka

  8. Balas

    Inez

    24 Oktober 2018

    bener bgt tuh. Kalo mau kasi apa2 mesti tanya dulu. good rules

  9. Balas

    Yunita Tresnawati

    24 Oktober 2018

    Salah satu bucket list saya nih ke Wae Rebo. Desa yang indah dengan bangunan yang unik serta tenun yang cantik. Detail sekali artikelnya Kak, keren

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      makasih ka, semoga bucket list ke Wae Rebo segera terlaksana 🙂

  10. Balas

    elsalova

    24 Oktober 2018

    Kak itu beneran perjalanan nya itu 2-3 jam? Aku sering banget baca tulisan perjalanan, nanti jaraknya zonk kak. tiba-tiba jauuuh nya pake bangeeet. sedih akuu tuuuu.

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      Bener ka kemarin aku dan temen2 cuma 2jam buat tracking karna kita semua sering naik gunung jadi cepet ga banyak istirahat dijalan hehe, kalo yang ga biasa naik gunung mungkin bisa 3-4 jam ka

  11. Balas

    Airin

    25 Oktober 2018

    Rumahnya bener2 rumah adat.. itu disana dingin/ panas? Atau sejuk y?

    • Balas

      Siti Mutmainah

      18 Februari 2019

      Dingin dan sejuk ka

  12. Balas

    Dayu Anggoro

    25 Oktober 2018

    Aih waerebo ini destinasi yang keren dan jadi impian banget si.

  13. Balas

    BestMauricio

    5 Agustus 2019

    I have noticed you don’t monetize hallokemux.com, don’t waste your traffic, you can earn extra cash every month with new monetization method.

    This is the best adsense alternative for any type of website (they
    approve all websites), for more info simply search in gooogle:
    murgrabia’s tools

LEAVE A COMMENT

St.Mutmainah
Indonesia

Panggil aja INA or Kemux . Suka Makan suka Jalan Stay di Jakarta . Mari berteman :D

SEKILAS

Coretan cerita perjalanan dan sharing kehidupan,

serta berbagi pengalaman.

Silakan di comment kasih masukan,

karna kritik dan saran bisa kujadikan pembelajaran :).

Trimakasih sudah mau mampir di blogku 😀

Follow Instagram @kemuxx